ANALISIS CERPEN DIANTARA 2 HARI
MENGGUNAKAN TEORI PSIKOANALISIS
NAMA : SHEIFI FARAH N.R
NPM :14.11.106.501.272
EGO
KEBENCIAN
Tokoh aku adalah seorang perempuan yang membenci 2 hari
setiap tahun. Di tiap tahunnya tokoh aku selalu beharap agar tidak pernah ada
hari itu. Karena hari-hari itu
mengingatkan ia pada masa lalu yang buruk. Seperti kutipan di bawh ini :
(01)“Ada 2 hari yang
kubenci setiap tahun. Aku berharap tidak pernah ada hari itu setiap tahunnya.
Sehingga aku tak perlu mengingat masa laluku. Masa lalu yang membuatku terpuruk.
Ya… sangat terpuruk.
Dua hari itu adalah hari ulang tahunku dan hari dimana tahun baru datang. Aku benci dua hari itu. Ya… sangat membencinya.
Hari ulang tahun. Dimana setiap anak akan bahagia ketika hari ulang tahunnya tiba. Tapi tidak bagiku. Aku selalu merasa takut ketika hari itu tiba. Karena di hari itu, aku akan menyadari bahwa aku sendiri. Tanpa setitikpun kasih sayang. Tanpa setitikpun pengertian”.(Indiastuti,2012)
Dua hari itu adalah hari ulang tahunku dan hari dimana tahun baru datang. Aku benci dua hari itu. Ya… sangat membencinya.
Hari ulang tahun. Dimana setiap anak akan bahagia ketika hari ulang tahunnya tiba. Tapi tidak bagiku. Aku selalu merasa takut ketika hari itu tiba. Karena di hari itu, aku akan menyadari bahwa aku sendiri. Tanpa setitikpun kasih sayang. Tanpa setitikpun pengertian”.(Indiastuti,2012)
Pada data (01) menggambarkan tokoh aku berharap dua hari
dalam setiap tahun itu tidak pernah ada sehingga dia tidak perlu mengingat
tentang masa lalunya kerena itu akan membuat dia sangat terpuruk. Dua hari itu
ialah hari dimana ulang tahunnya dan pada saat itu juga bertepatan dengan tahun
baru. Tokoh akupun sangat membenci dua hari itu dan merasa takut ketika hari
itu tiba. Karena menurutnya pada hari itu dia menyadari bahwa ia sendiri dan
tidak ada kasih sayang dan pengertian dari keluarganya.
Dari data (01) menggambarkan bahwa suasana batin tokoh aku
merasakan rasa benci yang sangat besar dengan dua hari tesebut karena bertepatan dengan hari ulang
tahunnnya dan tahun baru. Menurutnya kedua hari itu sangat bahagia bagi
semuanya tetapi tidak dengannya karena dia merasa dirinnya sendiri dan tidak
ada yang memperhatikannya . Dalam hal ini dapat dikaitkan dengan teori
psikoanalisis yaitu perasaan ego. Ego disini menggambarkan suasana perasaan
kebencian yang teramat dalam seperti kalimat berikut ini. “ Dua hari itu adalah hari ulang tahunku dan
hari dimana tahun baru datang. Aku benci dua hari itu. Ya… sangat membencinya.
Hari ulang tahun. Dimana setiap anak akan bahagia ketika hari ulang tahunnya tiba. Tapi tidak bagiku. Aku selalu merasa takut ketika hari itu tiba. Karena di hari itu, aku akan menyadari bahwa aku sendiri. Tanpa setitikpun kasih sayang. Tanpa setitikpun pengertian.. Pada kalimat sebelumnya ini menggambarkan suasana ego tokoh aku yaitu kebencian.
Hari ulang tahun. Dimana setiap anak akan bahagia ketika hari ulang tahunnya tiba. Tapi tidak bagiku. Aku selalu merasa takut ketika hari itu tiba. Karena di hari itu, aku akan menyadari bahwa aku sendiri. Tanpa setitikpun kasih sayang. Tanpa setitikpun pengertian.. Pada kalimat sebelumnya ini menggambarkan suasana ego tokoh aku yaitu kebencian.
KESENANGAN
Tokoh aku seorang perempuan diberikan kejutan oleh
keluarganya dan keluarga rinda. Dia sangat senang sekali ternyata yang
dinginkannya tercapai dan dia tidak menyangka sama sekali. Dia menutup matanya
dan berdoa agar keluarganya sama seperti halnya keluarga lainnya yang damai dan
senang. Adapun datanya seperti dibawah ini :
(02)“Mereka bernyanyi
selamat ulang tahun untukku, ternyata keluargaku dan keluarga Rinda yang
merecanakan ini semua. Aku merasakan senang sekali. Ibu meminta meniup lilin 17
ini, dan diminta aku memohon doa.
Aku menutup mata ini sambil berdoa. Ya ALLAH aku minta agar dapat seperti keluarga lain yang damai, seneng. Aku juga makasih sudah diberi teman yang baik seperti Rinda, semoga umurku ini aku makin baik. Aminnnnn.”.(Indiastuti,2012)
Aku menutup mata ini sambil berdoa. Ya ALLAH aku minta agar dapat seperti keluarga lain yang damai, seneng. Aku juga makasih sudah diberi teman yang baik seperti Rinda, semoga umurku ini aku makin baik. Aminnnnn.”.(Indiastuti,2012)
Pada data (02) menggambarkan tokoh aku pada cerpen tersebut
merasa tidak menyangka mendapatkan kejutan dari keluarganya dan keluarga rinda
sahabatnya. Dia merasa sangat senang sekali karena semua keinginannya dapat
tercapai di hari ulang tahunnya. Diapun berdoa agar keluarganya sama seperti
keluarga yang lainnya yaitu damai serta bahagia dan dia sangat bersyukur
mempunyai teman yang baik seperti Rinda. Semoga diumurnya yang ini disemakin
baik.
Dari data (02) menggambarkan bahwa suasana batin tokoh aku dalam cerpen tersebut merasa sangat senang
karena mendapatkan kejutan dari keluarganya dan keluarga Rinda sahabatnya.
Serta semua keinginannya pun tercapai pada hari ulang tahunnya. Dalam hal ini
sesuai dengan teori psikoanalisis ego yaitu kesenangan, adapun kutipan kalimat
yang menunjukan kesenangan itu “Mereka
bernyanyi selamat ulang tahun untukku, ternyata keluargaku dan keluarga Rinda
yang merecanakan ini semua. Aku merasakan senang sekali. Ibu meminta meniup
lilin 17 ini, dan diminta aku memohon doa.”. Pada kalimat ini menggunakan
suasana ego tokoh aku yaitu kesenangan
KESEDIHAN
Tokoh aku adalah
seorang perempuan yang menutupi kesedihannya di depan orang lain agar orang
lain tidak mengetahui apa yang dirasakan itu. karena tokoh aku terlalu sulit
untuk membagi rasa sakitnya kepada orang lain. Adapun datannya seperti
dibawah ini:
(03)“Yang ada hanya
pilu. Ya… aku terus menangis dalam diam. Aku tak mau topengku retak. Aku tak
mau orang tau seperti apa aku jika tanpa topeng ini. Meski itu didepan kakakku
sendiri. Aku tak mau terlihat rapuh.
Ya… selama 11 tahun aku terus menggunakan topeng kokohku. Aku tersenyum pada semua orang. Aku berakting seolah-olah aku bahagia. Seolah-olah tak memiliki masalah. Aku tau aku munafik. Tapi biarlah. Rasa sakit ini, rasa kesepian ini terlalu sulit kubagi. Indi yang mereka kenal bukanlah Indi. Indi adalah sosok yang tak mereka tau.
Aku lebih nyaman menangis sendirian. Aku lebih menyukai menangis tanpa suara. Mungkin memang lebih menyayat. Tapi lebih melegakan.
“Air matamu bisa habis jika kau menangis terus, Indi!”, itu kata kakakku. Tapi itu dulu. Indi yang sekarang bukanlah orang yang akan tertipu dengan kata-kata penghibur seperti itu”. (Indiastuti,2012)
Ya… selama 11 tahun aku terus menggunakan topeng kokohku. Aku tersenyum pada semua orang. Aku berakting seolah-olah aku bahagia. Seolah-olah tak memiliki masalah. Aku tau aku munafik. Tapi biarlah. Rasa sakit ini, rasa kesepian ini terlalu sulit kubagi. Indi yang mereka kenal bukanlah Indi. Indi adalah sosok yang tak mereka tau.
Aku lebih nyaman menangis sendirian. Aku lebih menyukai menangis tanpa suara. Mungkin memang lebih menyayat. Tapi lebih melegakan.
“Air matamu bisa habis jika kau menangis terus, Indi!”, itu kata kakakku. Tapi itu dulu. Indi yang sekarang bukanlah orang yang akan tertipu dengan kata-kata penghibur seperti itu”. (Indiastuti,2012)
Pada (03) menggambarkan bahwa tokoh aku mengalami kesedihan
yang mendalam, ia terus menangis dalam diam. Tokoh aku tidak mau orang lain
sampai tahu seperti apa dia tanpa topeng ini termasuk didepan kakaknya sendiri.
Selama 11 tahun dia terus menggunakan topeng tersebut. Ia tersenyum kepada
semua orang serta berakting seolah-olah bahagia dan tidak memiliki masalah
apa-apa. Ia memanggap dirinya munafik, tapi ia tidak perduli. Rasa sakit dan
rasa kesepian yang dia alami terlalu sulit untuk ia bagi. Dia lebih nyaman
menangis sendirian dan lebih menyukai menangis tidak bersuara. Menurutnya
memang itu lebih menyayat hati tapi lebih melegakan karena tidak ada yang tau.
Dari data (03) menggambarkan bahwa suasana batin tokoh aku pada cerpen tersebut selama 11 tahun
dia akan terus menggunakan topengnya tersebut. Meskipun dia terus menangis
dalam diam dan dia tidak mau sampai ketahuan siapapun termasuk kakaknya
sendiri. Ia berusaha tersenyum kepada semua orang serta berakting seolah-olah bahagia dan tidak
punya masalah apa-apa. Dia memang munafik, tapi biarlah. Semua rasa sakit dan
kesepian yang dia alami sulit untuk dibaginya. Dia lebih nyaman menangis
sendirian dan menyukai menangis tanpa bersuara. Menurutnya itu lebih melegakan
karena tidak ada yang tau meskipun itu menyayat hati. Dalam hal ini sesuai
dengan teori psikoanalisis ego suasana bahagia , adapun kutipan kalimat yang
menunjukan “Yang ada hanya pilu. Ya… aku
terus menangis dalam diam. Aku tak mau topengku retak. Aku tak mau orang tau seperti apa aku
jika tanpa topeng ini. Meski itu didepan kakakku sendiri. Aku tak mau terlihat
rapuh”. Pada kalimat ini menggunakan suasana ego tokoh aku yaitu kesedihan
yang mendalam.
SUPER EGO
Tokoh aku adalah seorang perempuan melewatkan malam tahun
baru hanya dengan tidur. Karena jika ia membuka matanya itu hanya akan mengingatkan sama semua luka yang tergores
dihatinya. Dia akan menyadari bahwa ia merasa sendiri. Super ego yang dimiliki
oleh tokoh aku biasanya pada saat marah dia melampiaskannya pada tembok dan dia
sudah tau itu membuatnya luka tetapi dia tidak peduli. Seperti data dibawah
ini:
Tokoh aku adalah seorang perempuan yang melewatkan malam
tahun baru hanya dengan tidur karena jika ia membuka matanya, itu hanya
akan mengingatkan sama semua luka yang
tergores dihatinya. adapun datannya sperti dibawah ini:
(04)“malam tahun baru hanya yang kesekian kalinya hanya kulewatkan dengan tidur. Karena jika aku membuka mataku. Aku akan mengingat semua luka yang tergores di hatiku. Aku akan menyadari bahwa aku kesepian. Aku akan menyadari bahwa aku sendiri. Itu membuatku marah. Biasanya saat seperti itu kulampiaskan pada tembok atau apalah.
Aku tau itu menyebabkan luka di tubuhku. Tapi siapa peduli. Luka-luka ditubuhku lebih nyata dan akan sembuh lalu menghilang bekasnya setelah beberapa hari. Tapi luka dihatiku entah akan sembuh atau tidak aku tak tau”.(Indiastuti,2012)
Pada (04) menggambarkan tokoh aku
dalam cerpen tersebut merasa bahwa malam tahun baru hanyalah malam yang
dilewatinya dengan tidur karena jika dia membuka matanya dia hanya akan
mengingat semua luka yang tergores dihatinya dan menyadari bahwa dia hanya
sendiri. Hal itu juga membuatnya menjadi marah biasanya saat seperti itu
dilampiaskannya pada tembok atau apalah. Dia tau itu akan menyebabkan luka di
tubuhnya tetapi dia tidak perduli. Menurutnya luka-luka ditubuhnya lebih nyata
dan akan sembuh lalu hilang tetapi luka dihatinya entah akan sembuh atau tidak
jika pun luka dihatinya sembuh itu tidak tahu kapan.
Dari data (04) menggambarkan bahwa suasana batin tokoh aku
pada cerpen tersebut merasa bahwa dirinya mempunyai luka yang teramat dalam,
karena dia mengingat semua luka yang tergores dihatinya dan dia menyadari bahwa
dia hanya sendirian itu juga yang
membuatnya marah. Biasanya saat marah dia melampiaskannya pada tembok
dan melukai dirinnya sendiri. Hal ini pun sesuai dengan teori psikoanalisis
yaitu super ego. Dimana super ego akan timbul dari rasa bersalah yang ada dalam
dirinnya. . Dalam hal ini sesuai dengan teori psikoanalisis ego yaitu
kesenangan, adapun kutipan kalimat yang menunjukan bahwa tokoh aku menyiksa
atau melampiaskan pada dirinnya sendiri atau adanya Super Ego ” Aku akan menyadari bahwa aku sendiri. Itu
membuatku marah. Biasanya saat seperti
itu kulampiaskan pada tembok atau apalah. Aku tau itu menyebabkan luka
di tubuhku”. Pada kalimat ini tokoh aku menggambarkan super egonya yaitu kecewa yang amat dalam
sehingga menyiksa dirinya sendiri

